| DR (C). KH. Nur Efendi Soekarta, S.Pd.I., S.H., M.Pd. |
Hikmah, Lokanews.net - Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali dihadapkan dengan berbagai kekhawatiran, terutama tentang persoalan rezeki. Banyak orang merasa gelisah ketika usaha belum membuahkan hasil, pekerjaan belum sesuai harapan, atau kebutuhan hidup terasa semakin berat. Namun dalam ajaran Islam, manusia diajarkan untuk tetap berikhtiar sekaligus menyerahkan segala hasilnya kepada Allah SWT.
DR (C). KH. Nur Efendi Soekarta, S.Pd.I., S.H., M.Pd., Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren An Noer 1 & 2 Karanganyar, menyampaikan bahwa kunci ketenangan hidup adalah mengembalikan seluruh urusan kepada Allah SWT.
Menurut beliau, manusia memiliki kewajiban untuk berusaha, tetapi tidak boleh menggantungkan hati sepenuhnya kepada usaha tersebut. Sebab, hakikat pemberi rezeki bukanlah pekerjaan, jabatan, bisnis, ataupun manusia lain, melainkan Allah SWT.
"Manusia diperintahkan untuk berikhtiar, bekerja, dan berusaha. Namun jangan sampai hati kita bergantung kepada usaha itu. Yang memberikan rezeki adalah Allah SWT," ungkap KH. Nur Efendi Soekarta .
Beliau menjelaskan bahwa sering kali manusia merasa takut kehilangan sesuatu karena lupa bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan titipan Allah SWT. Ketika seseorang memahami konsep tawakal, maka hatinya akan lebih tenang menghadapi berbagai keadaan.
"Rezeki itu sudah diatur oleh Allah. Tugas kita adalah berusaha dengan cara yang halal, berdoa, dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertakwa," tuturnya.
Jangan Takut Kekurangan, Allah Maha Mencukupi
KH. Nur Efendi Soekarta mengingatkan bahwa rasa takut terhadap kekurangan rezeki terkadang membuat manusia lupa untuk bersyukur. Padahal, Allah SWT telah memberikan banyak nikmat yang sering tidak disadari oleh manusia.
Menurut beliau, rezeki bukan hanya berupa harta benda. Kesehatan, keluarga yang baik, ilmu yang bermanfaat, ketenangan hati, serta kesempatan untuk beribadah juga merupakan bentuk rezeki dari Allah SWT.
"Banyak orang mengukur rezeki hanya dari jumlah uang yang dimiliki. Padahal nikmat Allah sangat luas. Ada orang yang hartanya banyak tetapi hatinya tidak tenang, dan ada pula yang sederhana tetapi hidupnya penuh keberkahan," jelasnya.
Beliau menekankan pentingnya memperkuat keyakinan bahwa Allah SWT memiliki cara tersendiri dalam memberikan pertolongan kepada hamba-Nya.
"Kadang manusia merasa pintu rezeki tertutup, padahal Allah sedang membuka jalan yang lain. Jangan membatasi cara Allah memberikan karunia-Nya kepada kita," tambahnya.
Ikhtiar, Doa, dan Tawakal Menjadi Kunci Kehidupan
Dalam menjalani kehidupan, KH. Nur Efendi mengingatkan agar umat Islam tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga memperhatikan hubungan dengan Allah SWT.
Menurutnya, usaha tanpa doa dapat membuat manusia lupa kepada Sang Pemberi Rezeki, sedangkan doa tanpa usaha menunjukkan kurangnya kesungguhan dalam menjalani amanah kehidupan.
"Keseimbangan antara ikhtiar, doa, dan tawakal harus selalu dijaga. Kita bekerja seolah-olah semuanya bergantung pada usaha kita, tetapi hati tetap yakin bahwa semuanya berada dalam kehendak Allah," katanya.
Beliau juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan. Sebab, setiap ujian yang diberikan Allah SWT pasti memiliki hikmah dan jalan keluar.
"Jangan pernah merasa sendiri dalam menghadapi masalah. Allah selalu bersama hamba-Nya yang mengingat dan mendekat kepada-Nya," pesan KH. Nur Efendi Soekarta .
Rezeki yang Berkah Lebih Utama daripada Banyaknya Harta
Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren An Noer 1 & 2 Karanganyar tersebut mengingatkan bahwa tujuan utama mencari rezeki bukan sekadar mengejar jumlah, tetapi mencari keberkahan.
Harta yang sedikit namun membawa keberkahan akan memberikan ketenangan, sementara harta yang banyak tanpa keberkahan dapat menjadi sumber kegelisahan.
"Yang kita cari bukan hanya banyaknya rezeki, tetapi keberkahan dalam rezeki. Karena keberkahan itulah yang membuat hidup terasa cukup dan penuh kebahagiaan," ujarnya.
KH. Nur Efendi Soekarta berpesan agar umat Islam selalu menjaga hubungan dengan Allah SWT, memperbanyak syukur, serta yakin bahwa setiap makhluk telah memiliki bagian rezekinya masing-masing.
"Jangan khawatir tentang rezeki. Allah yang menciptakan kita, maka Allah pula yang menjamin kebutuhan kita. Tugas manusia adalah berusaha, berdoa, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT," pungkasnya. (Lokanews.net)